๐‚๐ก๐š๐ฉ๐ญ๐ž๐ซ ๐ˆ๐•. ๐’๐ž๐ช๐ฎ๐ข๐จ๐ข๐š ๐„๐ง๐ญ๐ข๐ญ๐ฒ

ใ…คใ…คBagaimana kehidupan negeri Orchydurata bagi manusia?

Konon, setelah dihanturkan berkah autentik pada kaum Aristokrat, tersebar rumor para Petinggi Agung akan memberi gelar serta estat tersendiri kepada kaum Humaniora. Keputusan itu ditentang keras oleh segenap Aristokrat; tidak ada anasir manapun yang layak bersanding dengan mereka. Jika Werewolf dianggap sebagai yang terkuat tetapi tak berakal, maka mereka menganggap Humaniora sebagai insan paling ringkih sekalipun cerdas. Sedangkan Aristokrat kentara memiliki anugerah unggul keduanya.

Namun para Petinggi Agung amatlah bijaksana, sebuah negeri yang disinggahi berbagai macam anasir dapat makmur selama ribuan tahun karena keberadaan ketentuan hukum kuasa. Secara harfiah: Petinggi Agung mendambakan idealisme keseimbangan. Tetapi sejak dahulu, Orchydurata masih memiliki dua kesenjangan antara Aristokrat dan Humaniora. Maka pada awal abad pertengahanโ€”ketika diturunkannya firman pembebasan kaum Humaniora, tidak ada pihak manapun yang lancang mengutarakan pendapat, tak terkecuali para Aristokrat.

Setelahnya, pemetaan silsilah gelar kebangsawanan Humaniora dirunding pada parlemen pusat selama tujuh hari tujuh malam. Sidang itu dihadiri secara rutin oleh empat tetua Aristokrat, dua Alpha dan sepuluh keturunan Humaniora terpilih. Menjanjikan segala hal: kesaksian rohani atas kebebasan, serta merta raga sukarelawan.

Sebut saja kehidupan manusia di sana mulai merangkak betulan untuk bangkit sejahtera, meski cukup menyesakkan moral. Sekalipun sidang itu membuahkan gagasan bahwa kaum Humaniora tak lagi diperlakukan layaknya ternak, kenyataan jika mereka musti menyumbang darah selama satu tahun sekali untuk para Aristokrat tak dapat dipungkiri. Gagasan kedua adalah: Humaniora hidup di bawah naungan kaum Aristokrat.

Cahaya matahari di Orchydurata saat musim semi sejatinya begitu cerah, sehingga gandum dan rempah-rempah selalu panen tepat waktu. Meski sinarnya tak berpengaruh mematikan pada kaum penghisap darah, sebab keberadaan tabir sihir membentang luas melingkupi tiap sudut negeri Orchydurata, memiliki skala setinggi seribu meter di atas permukaan tanahโ€”pengecualian bagi dataran teritorial penghakiman. Itulah mengapa kedudukan para vampir jauh lebih berkuasa ketimbang anasir lainnya, karena kekuatan mereka tak dibatasi oleh hukum alam.ย 

Tetapi, sudah dua malam ini cuaca sangat tak bersahabat. Awan kelabu berkumpul melahirkan tetes demi tetesan air yang turun semakin melebat. Wangi petrikor menjejak di rumah kaca luas kecintaan salah satu keturunan Humaniora. Ditemani secangkir teh beraroma lembut, seorang gadis tengah merangkai bunga bersama pelayan yang setia mengikutinya. Tatapan sendu senada bisikan hujan yang tak kunjung berhenti menangis sedari sore pun terlukis di wajahnya.

“Nona Verity, Anda tidak kedinginan berada di sini terlalu lama?”

Verity Agathaโ€”putri tunggal dari pemilik salah satu estat sederhana di pedesaan Wilayah Baratโ€”seharusnya adalah gadis paling beruntung, karena telah mendapat kehormatan untuk menjadi suplai darah untuk pewaris dari salah satu klan. Tak sedikit keturunan Humaniora yang sukarelawan menyerahkan diri mereka dengan harapan berakhir dalam keabadian. Tentu para vampir bangsawan sangat selektif dalam memilih pasokan makanan utama mereka, dan keluarga klan Van Rough salah satunya.

“Berapa hari lagi aku akan dikirim ke istana?”

“Acara pemberian lambang kepada Putra Mahkota diselenggarakan hari ini,” sahut pelayan itu hati-hati. “Saat acara sudah selesai, pihak istana akan mengirim seseorang untuk menjemput Anda.”

Jemari Verity terkepal kuat, meremas sebagian hiasan bunga yang sudah dirangkai sedemikian rupa membentuk lingkaran itu. Kenyataan jika tak banyak lagi waktu yang dapat ia habiskan di estat ini bersama keluarga kecilnya seolah melilit perut. Pedih menjalar bersamaan dengan cairan merah pekat mengalir ketika tangkai berduri menggores telapak tangannya. Verity memperhatikan cairan itu turun melewati lengan, berakhir menetes pada alas meja beledu putih dan menjadi bercak merah di sana. Inikah yang selalu diinginkan para kaum penghisap darah itu?

Deanne, pelayan yang setia mengekorinya ke manapun Verity pergi, terbelalak panik menyadari majikannya terluka. “Astaga, Nona, Anda tidak boleh melukai diri sendiri!” 

Verity meletakkan rangkaian bunga dan menyesap cangkir teh, acuh pada kepanikan Deanne dan luka di tangannya. “Aku baik-baik saja.”

“Mari masuk ke dalam, saya akan mengobati telapak tangan Anda, dan menyiapkan air dengan kelopak bunga mawar.” Deanne mengusap bahu Verity penuh kasih, seolah menyalurkan kekuatan padanya. “Berendam dengan air hangat dapat menenangkan pikiran.”

Verity hidup tanpa kasih sayang seorang ibu sejak usia lima tahun. Ayahnya teramat patuh pada Aristokrat setelah ibunya meregang nyawa, menjual rumah mereka yang berada di pusat kota dan memperoleh estat sederhana di wilayah pedesaan, lalu sebagian uang itu digunakan untuk penanaman modal dan membeli beberapa lukisan Aristokrat. Seorang pria yang memuja Petinggi Agung dan taat kepada para Aristokrat, begitulah pandangan Verity terhadap ayahnya sekarang. Kendati demikian, Verity mendapat perhatian yang cukup. Ayahnya mempekerjakan seorang pelayan dan mengabulkan segala permintaan yang diinginkannya.

Rasa pedih di telapak tangan semakin menjadi ketika goresan luka tadi bertemu dengan air hangat. Setengah jam Verity habiskan untuk merendam tubuh dalam genangan air yang dipadu kelopak bunga mawar. Namun ia sama sekali tidak menemukan ketenangan, justru sibuk bermonolog sendiri selagi Deanna membasuh bahunya. Satu hal yang membuat Verity terguncang adalah mengingat kembali bagaimana reaksi ayahnya tentang hal ini.

Pagi-pagi sekali ketika kediaman mereka mendapat kunjungan dari pihak istana, ayahnya menyambut dua bawahan Aristokrat dengan wajah berseri. Kemudian setelah mereka pergi, ayahnya tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju kamar Verity. Masih dengan wajah berseri pula, sang ayah berkata kepada anak semata wayangnya bahwa ia terpilih menjadi suplai darah pribadi untuk Putra Mahkota. Tentu Verity menolak, tetapi dengan lantang ayahnya berkata,

‘Jika beruntung, kau tidak akan berakhir mati hanya karena digerogoti penyakit, seperti ibumu itu!’

Verity segera membasuh dan mengusap wajah saat matanya terasa panas. Rahangnya mengeras menahan diri untuk tidak menangis. Ritual pembersihan itu pun usai dan tubuhnya sudah dikeringkan, Deanne membawa Verity kembali ke kamar.

“Perjalanan ke istana pasti terasa melelahkan. Aku tidak ingin selama perjalanan itu rambutku akan mengganggu kenyamanan,” Verity berkata dengan nada tegas tanpa menoleh ke belakang.

Deanne tersenyum getir, diam-diam mengusap air matanya yang hampir menetes. Bagaimanapun, wanita menjelang usia seperempat abad itu sudah bekerja di sini selama tiga belas tahun, selama itu pula ia merawat Verity seperti putrinya sendiri. “Baik, Nona. Serahkan saja masalah itu pada saya.”

Verity duduk di depan cermin rias setelah pelayan wanita itu membantunya berkemas: memakaikan korset dan gaun linen terbaik yang dimiliki. Sebenernya ia enggan karena jarang menggunakan korset, tetapi Deanna terus membujuk dengan berkata korset sangat penting bagi seorang lady. Gaun itu sederhana tetapi menawan, berwarna biru pucat dengan sulaman apik berbentuk bunga di bagian depan. Deanne juga menyapukan serbuk putih halus ke wajahnya. Sedikit riasan namun tetap terlihat natural; tidak menutupi kecantikan alami yang dimiliki Verity.

Sementara tugas Deanne beralih sibuk menata dan menjepit rambut panjangnya, Verity lagi-lagi termenung dengan pikirannya yang berlabuh begitu jauh.

โ€” แดœษดส€แด‡แด€แด„สœแด€ส™สŸแด‡ โ€”


Hiruk pikuk bak dengung lebah tak kunjung lesap dalam hitungan jam. Ruangan pada balai istana yang didominasi ukiran emas sepanjang dindingnyaโ€”beberapa waktu laluโ€”telah menjadi tempat bagi sang putra mahkota mengesahkan gelar serta memperoleh lambang dari pemimpin klan.

Istana selalu identik dengan seluruh perabot dalam lapisan emas. Atribut menyilaukan itu hanya membuat sesak, bahkan sanggup menipu pencuri agar tidak lekas pergi. Kepalang penuh dengan seluruh hiasan mewah nan megah, kadang tunggal Van Rough membenci bagaimana kemegahan pantas disandingkan dengan gelarnya. Seolah segalanya sudah selaras. Itulah mengapa ia lebih nyaman ketika berada di kastel.

Langkah seiring seretan kain sutra ke marmer pun mengalun menyusuri karpet merah di koridor. Jubah yang dipakai Zealrey kali ini teramat panjang melebihi tinggi badannya. Baldwin menegaskan jika jubah itu diwarisi secara turun temurun oleh para pemimpin klan Van Rough saat formalitas pelantikan, ia harus tetap memakainya meski enggan. Selama Zealrey berjalan, sepasang mata dari bingkai-bingkai lukisan raksasa para pendahulu yang bertengger apik menghiasi dinding seolah menatapnya dengan wajah kaku mereka.

“Tuan Muda, Anda yakin ingin meninggalkan balai istana begitu saja? Padahal malam ini Anda adalah bintangnya, Yang Mulia Raja dan Ratu pasti akan marah.”

Siluet Valeryne terekam jelas beberapa meter di belakang. Zealrey beranggapan jika gadis kecil itu sudah semakin lancang lantaran mengikutinya ke manapun ia pergi, padahal baru saja diangkat sebagai pengawal pribadi sekitar dua minggu, dan selama itu pula Zealrey selalu mencari cara bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk membunuh si bungsu Aldebaran. Tetapi sekarang bukan waktu yang tepat.

“Enyahlah,” kata Zealrey seraya mengibaskan tangan. Ibunya tidak mungkin marah, sedangkan ia sendiri tak pernah ingin peduli pada reaksi Baldwin. Pria tua itu sudah terlalu banyak mengatur kehidupannya. Namun, seharusnya Zealrey tidak pernah meninggalkan kursi hanya untuk menghindari duduk bersebelahan lebih lama lagi dengan Baldwin.

Lima jam berurusan secara langsung dengan para bangsawan ibarat menjerat diri dalam neraka. Setelah proses pemberian lambang dan penyematan lencana selesai, para Aristokrat mendekat bersamaan begitu Zealrey menuruni anak tangga. Saat pemuda itu berjalan ke bagian pinggir ruangan, Zealrey mendapati dirinya sudah dikerubungi semua orang. Mereka seakan mengabaikan tatapan dan perkataannya yang tajam, mereka justru berterima kasih tanpa intuisi. Bagaimanapun Zealrey mulai menyadariโ€”selama menyangkut tentang dirinyaโ€”tak pernah ada orang yang benar-benar waras. Kepalanya berdenyut nyeri mengingat tiap wajah pucat sumringah yang mengelilinginya.

Zealrey semakin memperlebar langkah, sementara Valeryne kukuh menyusul, berlarian kecil di belakang. “Sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk mengawal Tuan Muda Zealrey.” 

“Mengawal?” Zealrey berhenti melangkah dan gadis itu sangat nyaris menginjak jubahnya kalau saja ia tidak cekatan untuk ikut berhenti. Zealrey menoleh, dan atmosfer di sekelilingnya seolah semakin kelam. “Kau tidak dibutuhkan di sini. Aku bisa saja menghabisi nyawamu kapanโ€“”

“Masih arogan seperti biasanya, ya, Zealrey Alward.”

Suara bariton menginterupsi sebelum Zealrey menyelesaikan kalimat. Ia mengenal jelas pemilik suara itu. Seseorang yang selalu menatapnya dengan ekspresi kesal tiap kali bertemu, seolah Zealrey penyebab seluruh kesalahan di dunia ini. Dan benar sekali, saat Zealrey mengalihkan pandangan dari Valeryne, pemuda jangkung berambut gelap muncul dari balik persimpangan koridor di depanya.

“Salam kepada Pangeran Frizs Antonio, ahli waris dari klan Von Stein.” Valeryne yang lebih dulu menyapa, membungkuk hormat pada pemuda itu dengan tangan kanan di depan dada.

“Ayahmu sepertinya mendapat tangkapan besar,” sarkasme itu mengalir sealami bernapas, meski Frizs mengucapkannya tanpa ekspresi dengan nada suara seringan kapas. “Keturunan potensial dari keluarga Aldebaran. Tidakkah kau tertarik memerintahkannya untuk bertanding dengan pengawalku?”

Biasanya, orang-orang kolot di Orchydurata langsung termakan oleh sarkasme sederhana itu, tetapi tunggal Van Rough bukan salah satu dari mereka. Zealrey mendongak sesaat ke sudut ruangan, lalu mengangkat bahu singkat seolah tak peduli. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Apa yang kulakukan? Tentu saja, menikmati keindahan istana ini.” Frizs menyapukan ujung-ujung jemarinya pada salah satu sisi bingkai lukisan, pemuda itu tersenyum tipis. Bukan senyum persahabatan. “Aku dan kakakku diundang secara ekslusif oleh Yang Mulia.”

Tepat setelah akhir kata, seorang perempuan berjalan mendekati mereka dari belakang tempat Frizs berdiri. Gadis itu mengenakan gaun satin merah gelap. Gaun yang begitu pas di lekukan pinggangnya, lalu mengembang dengan sempurna di atas berlapis-lapis gaun dalam. Sementara garis lehernya berada di atas korset, menggoda tanpa melewati batas kesopanan. Tubuhnya tampak tinggi semampai dengan stiletto tujuh belas senti berwarna hitam, mengelabuhi tinggi badan aslinya.

“Putri Zรจphyrine Aleister Von Stein.” Lagi, Valeryne mengulangi postur yang sama ketika Zรจphyrine berhenti tepat di samping Frizs dan menepuk pundak pemuda itu.

Zรจphyrine sekadar mengangguk, secara anggun melebarkan kipas untuk menutupi bibirnya. Mata violet itu menyipit dengan tatapan intimidasi. “Namamu Valeryne, bukan? Sepertinya tadi Yang Mulia memanggilmu. Kembalilah ke aula istana, Marquess Aldebaran juga menunggu di sana.”

Zealrey tentu menyadari perkataan gadis itu bohong, sebab ia tahu betul Baldwin tidak pernah merencanakan pertemuan mereka berdua secara resmi. Biasanya sang pemimpin akan memanggil melalui perantara Edge atau Archedes, untuk bertanya kepada Valeryne seputar kegiatan yang dilakukannya selama satu minggu. Meski mengetahui hal itu, Zealrey sekadar mengangkat dagu singkat ketika Valeryne menatapnya dengan sorot bertanya. Bungsu Aldebaran juga menyadari kebohongan kecil yang dilontarkan oleh Zรจphyrine.

“Benarkah, Putri? Kalau begitu saya izin undur diri.” Valeryne pergi meninggalkan mereka setelah berpamitan dengan senyum cerah yang ditujukan pada Zรจphyrine.

Lalu Frizs, pemuda itu seolah mendapat sengatan listrik ketika kakaknya melirik sinis. Itu sebuah ancaman, atau … semacam peringatan? Ia tidak ingin ambil pusing. Helaan napas ringan lolos dan Frizs melangkah mundur kemudian berbalik pergi. “Sepertinya aku melupakan daging rusa panggangku.”

Zรจphyrine kembali melipat kipasnya. Senyum diulas sementara mata violet itu sekarang menatap lurus ke arah tunggal Van Rough. “Kau berhutang jasa penyingkiran hama padaku.”

“Aku baru tahu seorang putri mahkota bisa berganti profesi menjadi pembasmi hama,” Zealrey menanggapi dengan datar. Lelucon samar itu membuat bibir merekah Zรจphyrine memberengut, ia berjalan melewatinya dan gadis itu menyusul di belakang.

Tidak banyak yang dapat mereka bicarakan selama menyusuri koridor istana yang begitu panjang. Zealrey masih berjalan di depan, satu-satunya objek pandang Zรจphyrine saat ini adalah pundak tegap dan rambut pirang emas pemuda itu. Saat menangkupkan tangan ke belakang punggung, kulitnya menemukan cincin yang setia melingkar di jari manis sebelah kiriโ€”cincin serupa yang juga tersemat pada jari si tunggal Van Rough. Zรจphyrine merapatkan bibir. Ketika pandangannya diturunkan, jubah panjang Zealrey menarik perhatiannya.

“Jubahmu sepertinya sangat menggangu.”

“Kau ingin berperan sebagai pelayan dan melepaskannya untukku?” Pertanyaan itu terlontar ketika mereka berbelok menaiki anak tangga.

Semburat merah muda terpatri samar di pipi Zรจphyrine. Ia kesal. Nyaris ingin melempar kipas dalam genggamannya ke arah pemuda itu. Tetapi ia mengurungkan niat, melampiaskan kekesalan itu dengan mencengkram erat pinggiran kayu pada kipas tersebut. “Bukan begitu, bodoh.”

Menara utara menjadi tujuan akhir pemuda itu setelah beberapa menit menaiki banyak anak tanggaโ€”tempat paling tinggi yang ada di istana ini. Mereka singgah di sebuah balkon urutan ke dua dari penghujung koridor yang sepi. Tempat sempurna; menyuguhkan panorama taman bunga mawar merah membentang luas di depan mata. Zealrey bersandar menopang lengan di atas pagar balkon sementara Zรจphyrine berdiri di sampingnya.

“Gerhana Bulan Darah akan berlangsung beberapa minggu lagi,” Zรจphyrine bergumam lirih. Ia menengadah menatap lingkaran cahaya di langit dan angin dingin membelai lembut wajah pucatnya. “Apa kau tahu mengapa fenomena itu dijuluki Gerhana Bulan Darah, Zealrey?”

Yang ditanya hanya melirik sesaat dan kembali melempar pandangan pada hamparan mawar di bawah. Zรจphyrine sudah tidak heran dengan reaksi itu, tunggal Van Rough memiliki kecenderungan dalam membuat orang merasa sebal untuk berinteraksi dengannya. Kendati demikian, Zรจphyrine berniat tetap melanjutkan perkataannya. Menjabarkan sebuah dongeng indahโ€”menurutnyaโ€”yang akan diceritakan pada Zealrey.

Gadis itu berdeham sekali lalu kembali berkata, “Saat fenomena Gerhana Bulan Darah terjadi, Bumi akan bermandikan warna merah. Molekul udara dari atmosfer menyebarkan sebagian warna biru. Cahaya yang tersisa akan memantul ke permukaan bulan. Istilah Bulan Darah sendiri muncul karena …”

Telinga Zealrey masih setia mendengar meski tidak menatap Zรจphyrine. Selagi gadis itu terus bercerita, manik delimanya kini menyusuri tiap celah pada taman labirin. Labirin itu tampak lebih luas dari atas menara, dengan jalur berliku-liku yang sangat rumit, seseorang pasti akan tersesat jika tidak mengenal tempat itu dengan baik. Dan matanya berhenti ketika ia menemukan figur seseorang. Tiba-tiba saja suara Zรจphyrine seolah menjauh, semakin samar di telinga sampai Zealrey yakin ia sepenuhnya memusatkan atensi hanya untuk mencermati sosok di antara tabir dedaunan yang menjulang tinggi dari kejauhan.

Zealrey memicingkan mata saat awan menutupi cahaya bulan, sejatinya kornea dan indera penciuman Aristokrat jauh lebih tajam sekalipun di malam hari. Dengan jarak sejauh ini ia bahkan mengenal aroma itu dengan baik.

‘Humaniora?’ Aroma itu berbeda dari kebanyakan darah Humaniora yang ia kenal.

Bulan kembali berpendar setelah beberapa detik. Sejenak, yang dapat Zealrey lihat adalah rambut seorang gadis berwarna sehitam tinta, dikepang dan dijepit dengan lingkaran rumit yang tergerai di bahuโ€”tertutup bonnet berenda kecil. Zealrey selalu mengira hitam adalah corak tak berwarna, tetapi rambut gadis itu tampak begitu hitam hingga rasanya semua warna menyatu; bercahaya tertimpa radiasi sinar bulan. Rambut gadis itu terlihat tebal di puncak kepalanya. Tanpa jepit dan kepangan, tanpa bonnet berenda kecil, Zealrey berani menjamin seluruh rambut gelap itu akan menjuntai mencapai paha. Rasanya pasti seperti awan sutra hangat di tangannya.

“Kau mendengarkanku, Zealrey?”

Namun, mengapa ada Humaniora yang berkeliaran di istananya, di tengah acara yang hanya dapat dihadiri khusus untuk para Aristokrat ini?

Pemandangan kedua adalah Zealrey melihat dua siluet mengendap-endap di dalam semak belukar, terpaut jarak tiga meter dari tempat gadis itu berdiri. Seketika ia ingat akan sesuatu, Leomord biasanya selalu membebaskan beberapa Rogueโ€”serigala liar yang tak terikat oleh klan Werewolf manapunโ€”berkeliaran di setiap halaman istana pada malam hari. Siluet itu bukan sekadar khayalan belaka, melainkan arti pertanda buruk bagi si gadis Humaniora. Biasanya tunggal Van Rough memilih tidak peduli. Namun sesuatu dalam diri Humaniora tak dikenal itu telah menarik perhatiannya, dan tubuhnya merespon tanpa diduga.

“Zealrey?”

Zealrey menegakkan tubuh, sementara satu kaki berpijak di atas pagar balkon. Tanpa menghiraukan Zรจphyrine yang memanggil, pemuda itu melesat terjun. Jubah panjangnya berkibar sempurna menjadi bobot yang sesuai ketika diterpa hembusan angin. Dalam hitungan detikโ€”saat dua Rogue hendak menerjang bersamaanโ€”Zealrey mengarahkan kaki tepat menghantam kepala salah satu makhluk itu, bunyi tulang patah mengiringi, sementara tangannya berhasil mencengkram leher Werewolf yang satu. Makhluk buas itu meronta dalam cengkeramannya.

Darah terciprat mengenai pipi ketika Zealrey tanpa ragu mengoyak rahang si makhluk, dan gadis Humaniora menutup mulut dengan mata terbelalak; memekik tertahan menyaksikannya. Tubuh Rogue yang sudah tak bernyawa langsung dibuang begitu saja.

Gadis Humaniora menatapnya cukup lamaโ€”tanpa berkedipโ€”dan entah mengapa, sorot dari mata ungu pudar itu sangat mengganggu. Tangan Zealrey terulur menyapu udara di depan wajah gadis itu, dan seketika ia limbung tak sadarkan diri. Dengan cekatan Zealrey menarik pergelangan tangan ramping tersebut dan sang gadis jatuh dalam dekapannya. Saat itulah Zealrey pertama kali mengetahui, bahwa sensasi hangat yang ada pada tubuh manusia berbeda dengan suhu di tungku perapian.

Ia mengamati wajah si Humaniora dalam waktu yang cukup lama; terlihat putih seolah menyatu dengan warna cahaya bulan, warna kulit putih normal yang dimiliki oleh makhluk hidup. Serta bulu mata hitam lentik. Tangan Zealrey ingin sekali menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya, sebelum suara derap kaki terdengar semakin mendekat dan tangannya pun berhenti. Seorang pemuda berambut silver muncul dari balik persimpangan labirin.

“Sepertinya terjadi kekacauan kecil di sini?” tebakan sambil lalu itu lebih terdengar seperti ungkapan kebingungan. Pemuda itu menghampirinya tanpa beban dengan melompati mayat-mayat Werewolf yang tergeletak. “Syukurlah kau menyelamatkannya, aku sudah mencari dia kemana-mana.”

“Edge,” kata Zealrey, akhirnya memapah tubuh sang gadis. “Kau mengenal Humaniora ini?

Edge menggeleng dengan senyum samar tetapi penuh makna. Ia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya sebelum menjawab, kali ini dengan wajah serius, “Itu pemberian. Untukmu, dari Yang Mulia.”

Tunggal Van Rough tidak merespon untuk beberapa saat yang terlewat lama, mencoba mencerna perkataan Edge dengan baik. Namun alisnya mengernyit sebagai tanda ia tetap tidak mengerti. “Apa?”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai