π‚π‘πšπ©π­πžπ« 𝐈𝐈𝐈. π“π‘πž π„πœπ₯𝐒𝐩𝐬𝐞 π†π’𝐫π₯

γ…€γ…€Suara gemericik rintik hujan bertalu-talu mengguyur tiap sudut permukaan bumi, terus mengalir hingga capai suatu kubangan telaga berbingkai rumput perdu. Letak kastel Aldebaran berada di kaki bukit, untungnya Edge dan Joe sampai lebih awal sebelum awan mendung melingkupi selangka langit wilayah Utara Orchydurata.

Ketika dua ekor kuda itu menjejaki pelataran kastel, mereka disambut seorang serdadu berpakaian serba hitam yang muncul secara tiba-tibaβ€”berkelir kabut entah datang dari manaβ€”merupakan rutinitas umum setiap kali menghadap penjaga gerbang utama sebelum menelisik masuk. Serdadu itu bertanya perihal tujuan kedatangan, setelahnya mereka diboyong menuju halaman utama manor Aldebaran untuk bertemu kepala pelayan.

Kini tibalah Joe di ruang tamu dengan nuansa biru berlian elegan ditemani aneka sesaji kudapan manis. Kendati sejatinya vampir tidak pernah butuh pangan selain darah segar, tetapi formalitas etika bangsawan musti senantiasa dijaga. Sedangkan si pemuda berambut silver tidak lagi bersamanya, sebab ia mendapat izin memasuki ruang kerja pemimpin klan Aldebaran untuk menyampaikan pesan dari sang tuan.

Di negeri ini, para kaum nona bangsawan percaya sebuah obrolan ringan akan tercipta kala aroma teh yang tersedia di atas meja menguar ke penghiduβ€”meskipun itu pertemuan pertama mereka. Namun tidak semua keadaan selalu berjalan lancar. Gadis berambut perak mengulurkan tangan untuk meraih teko porselen berwarna toska. Ketika rasa hangat menyergap kulit, dengan cekatan pula dirinya menuang seduhan teh bunga Rosella ke dalam cangkir-cangkir yang tersedia.

Tunggal Belvether tidak pernah mengira jika calon pengawal yang dimaksud Edge adalah seorang anak berusia empat Nezeth lebih muda ketimbang sepupunya. Bagaimanapun ia tahu, sang pemimpin Van Rough selalu punya alasan dan pertimbangan tersendiri atas pilihannya untuk Zealrey. Juga mengenai rumor klan Aldebaran yang konon dalam tiga setengah abadβ€”ketika gerhana bulan darah bertahta di langitβ€”akan terlahir entitas Aristokrat potensial dari garis keturunan mereka. Namun, apakah intrik tersebut benar?

“Terima kasih.” Garis bibir Joe melengkung membentuk senyum, senyum ramah selagi mata meneliti.

Kulit kaukasoid tanpa bintik, tinggi yang hanya sebatas bawah bahunya, lalu tangan ramping seperti tak memiliki tenaga. Poin utama paling kentara hanya ada pada manik menyerupai gerhana darah itu sendiri. Joe lekas menyingkirkan keraguan dalam benak, dirinya memilih terhanyut dalam sensasi hangat ketika cairan herbal mengalir ke faring.

“Nama saya Valeryne Grace Aldebaran, suatu kehormatan dapat bertemu pewaris salah satu kerajaan klan Aristokrat di negeri ini.”

Cangkir itu kembali Joe letakkan di atas meja. Mengabaikan basa-basi yang terlontar, ia justru bertanya, menggunakan kemampuannya untuk menelisik ke dalam pikiran Valeryne. “Kau tahu alasan kedatangan kami kemari, Valeryne?”

“Beberapa hari jauh sebelum ini, ayah sudah bercerita tentang sejarah klan Aldebaran. Kami memiliki hutang budi keselamatan pada Kerajaan Barat,” suaranya sedikit bergetar. Syukurlah Valeryne masih dapat menahan posisi duduknya sebagai seorang lady, meski kaki kian mulai terasa keram. Gadis itu kembali melanjutkan, “katanya pula, sebagai wujud apresiasi atas pengabdian klan kami, Yang Mulia Baldwin secara langsung memilih saya untuk mengawal putra tunggalnya.”

Tersirat kebajikan murni dalam pikiran bungsu Aldebaran. Gadis itu seperti kanvas putih, berbeda jauh dengan para calon pengawal sebelumnya. Kini senyum cerah terlukis menghiasi wajah Valeryne, sedangkan Joe hanya menatap dengan raut sarat akan getir. Sebab menjadi pengawal Zealrey ibarat memasuki hutan belantara yang penuh anasir berbahaya, terlebih bagi seorang perempuan seperti Valeryne. Joe merasa tenggorokannya mendadak kering. Maka ia kembali menyesap cairan herbal itu, kemudian mereka melanjutkan obrolan dengan hal-hal yang lebih ringan.

Sementara di lain ruangan pada luasnya lanskap kastel Aldebaran, Edge berdiri tegap dengan figur kedua tangan bertaut di belakang punggung. Di hadapannya entitas Aristokrat tengah duduk mengamati. Seorang lelaki tua penyandang status kepala keluarga sekaligus pemilik kastel yang dipijakinya saat ini, Archedes Zydic Aldebaran.

“Yang Mulia Baldwin mengutus saya untuk menyampaikan surat ini … dan menjemput putri Anda.” Edge berdeham sekali, gulungan perkamen dalam genggaman ia letakkan di atas meja.

Archedes meneliti dengan seksama benda yang kini telah berpindah ke tangannya. Di atas perkamen itu terpatri apik stempel dengan ukiran khas lambang klan Van Rough sebagai tanda lampiran resmi. Tali serat ia buka hati-hati, keheningan menyapa ketika Archedes mulai menekuri bait kata yang tertulis. Entah hanya imajinasi atau bukan, Edge yang sedari tadi memperhatikan pun sepintas menangkap gurat gelisah dari wajah Archedes.

“Kebetulan segala urusanku di sini telah usai.” Perkamen itu lantas digulung kembali, mengikatnya seperti sediakala dan ditaruh dalam laci meja yang kemudian dikunci rapat. Mata kelabu Archedes menatap Edge tegas, “maka jadwal keberangkatan kami akan dipercepat.”

Kalimat dengan satu kata penuh penekanan mengudara. Edge mengangguk paham, merasakan gelitik cemas pada ibu jarinya. Saat itu pula ia mengerti akan gelisah yang dirasa Archedes. “Kapan jika saya boleh tahu?”

β€” α΄œΙ΄Κ€α΄‡α΄€α΄„Κœα΄€Κ™ΚŸα΄‡ β€”

Tidak banyak yang dapat mereka lakukan saat berada di kastel Aldebaran. Ketika bulan dan matahari berganti peran, curah hujan mulai sepenuhnya mereda, menyisakan tanah lembab penuh lumpur. Archedes bertitah pada bawahannya agar segera menyiapkan satu awak kereta kuda untuk mereka.

Joe menolak dengan sopan, memilih menunggangi kuda bawaan sebelumnya saat ia datang kemari bersama Edge. Walau Edge sudah melarang lantaran ia seorang tuan putri, dengan kata lain seseorang berstatus tinggi musti memakai fasilitas bagus untuk tunggangannya. Namun gadis itu senantiasa keras kepala menolak dengan dalih ada tempat lain yang harus dituju. Maka ketika mereka nyaris memasuki kawasan desa Eastvolβ€”yang menjadi pembatas antara wilayah Utara dan Baratβ€”kuda Joe berbelok ke arah berlawanan, kemudian menghilang ditelan jajaran batang pohon akasia.

“Dasar, Putri Kepala Batu,” Edge menghela napas pasrah. Ia memacu kudanya berderap di belakang kereta tunggangan klan Aldebaran.

Sepanjang perjalanan menuju kastel Van Rough, sinar kebahagiaan terpancar jelas dari wajah kaukasoid Valeryne, gadis usia lima belas Nezeth keturunan termuda klan Aldebaran itu berada dalam kereta kuda bersama Archedes. Pakaian resmi kebanggaan berwarna lazuardi terpadu gradasi hitam melekat apik di tubuh mereka berdua.

“Ayah, apakah Pangeran Zealrey akan menyukaiku?”

Sejak diputuskan untuk bertugas mengawal sang pangeran, anak bungsunya tak berhenti bertanya. Biasanya Archedes hanya akan menjawab dengan penuh kesabaran. Namun, kali ini berbeda. Ia tak bisa menjawab karena mengetahui jejak rekam para pengawal si tunggal Van Rough sebelumnya. Apakah keputusannya sudah benar, atau malah menjadi petaka? Bagaimanapun juga ia adalah seorang ayah. Archedes tidak memberikan jawaban apa pun, pria tua itu larut dalam pemikirannya sendiri. Berbagai nalar buruk datang dan menguasai, silih berganti tak mau berhenti.

“Ayah?” panggil Valeryne lagi, menyadari Archedes tak kunjung angkat bicara. Menerka pria tua itu kembali berpolemik pada diri sendiri. Kendati dalam benak Valeryne cukup yakin, bukan menjadi masalah baginya untuk tinggal di Kerajaan Barat sebagai pengawal putra mahkota di sana.

“Zealrey pasti menyukaimu.” Siluet Edge muncul di balik tirai jendela. Pemuda itu tampak meregangkan kedua tangan, kebiasaan saat menyamar menjadi manusia membuatnya lupa akan kodrat. “Tidak ada yang bisa menolak pesonamu. Tidak aku, tidak Yang Mulia Baldwin dan juga tidak Zealrey Alward.”

Valeryne lekas berpindah ke sofa seberang, membuka tirai jendela dan mendapati Edge di sana. Iris merah darah itu menatap lembut ke dalam mata Valeryne. “Benarkah, Tuan Krueger?”

“Edge, panggil saja begitu. Aku bukan seorang Aristokrat, hanya vampir kelas bawah.” Di belakang Valeryne, kedua tangan yang terkepal dibarengi wajah kaku Archedes tertangkap oleh pandangan. Edge tahu pria tua itu menahan diri untuk tidak membantah ucapannya.

“Ta-tapi, Anda teman Tuan Muda Zealrey. Semua teman beliau, akan saya panggil dengan sopan seperti saya memanggil Tuan Zealrey.”

Edge memutar bola mata menahan mual yang tiba-tiba melanda perut. Ia menarik tali kudanya untuk mengikis jarak di antara mereka. Melalui jendela berbentuk persegi itu, Edge meraih tangan mungil Valeryne kemudian digenggamnya pula dengan penuh kehangatan, walau mungkin yang terasa hanya dingin menggigit layaknya es batu. “Percayalah padaku. Kau punya pesona yang tidak mungkin ditolak oleh seorang Zealrey Alward.”

Ekor mata melirik Archedes. Pria tua itu langsung memalingkan wajah, memilih untuk bungkam hingga sisa perjalanan menuju kastel Van Rough.

β€” α΄œΙ΄Κ€α΄‡α΄€α΄„Κœα΄€Κ™ΚŸα΄‡ β€”


Hidup sebagai seorang tunggal Van Rough hanya berpusat pada hitam dan putih. Membosankan. Namun tidak bagi Zealrey Alward yang belakangan berkutat menyelami tumpukan buku. Jika lelah dengan kegiatan monoton, sisi lain dalam diri akan menuntut aksi dinamis. Seperti satu pekan setelah hari di mana ia berdialog dengan Baldwin, seringkali arena luas belakang kastel menjadi tempat paling sempurna untuk memadah sentimen hanya dengan ayunan pedang. Sebagai ganti ketidakberadaan Edge, pemuda itu menunjuk Leomord selaku lawannya kali ini.

“Aku tidak mengerti,” kata si tunggal Van Rough, tangannya sediakala mencengkram erat gagang pedang. “Mengapa dia bersikeras agar aku memiliki pengawal.”

Seraya mengambil gestur ancang-ancang untuk menyerang, iris delima Zealrey menyala sebagai pertanda dirinya tengah memasuki Noire-Arvous: bakat fundamental pembangkit eksistensi jelaga pada tiap diri anasir yang hanya dapat dikuasai oleh segelintir klan Aristokrat. Satu gerakan cepat dipadu tenaga ekstra, bilah pedang pun terayun sempurna mengarah pada sang ajudan. Dan ketika pedang mereka beradu menimbulkan tekanan udara serta merta dentingan memekak telinga, pahatan besi itu berdesir di bawah sinar matahari dengan sedikit percikan api.

Bulir bening mengalir melewati pelipis Leomord. Ia berhasil menahan serangan, meski harus dengan jerih payah, sebab lawannya seorang pemuda Aristokrat yang telah menguasai Arvous saat usia baru menginjak dua belas tahun. Sementara Leomord sendiri mendapat pelatihan khusus oleh Archedes sejak Baldwin membawanya ke kastel Van Rough. “Tuan dan Nyonya hanya ingin yang terbaik untuk Anda, Tuan Muda.”

Lagi, tebasan berikutnya menyusul, kali ini lebih cekatan dan kuat. Melompat mundur lalu maju mengeliminasi langkah, ayunan pedang melintang Zealrey coba arahkan dari bawahβ€”mengincar pedang sang ajudanβ€”sementara pertahanan Leomord mulai goyah. Dalam sekali hentakan, pedang dalam genggaman Leomord terlempar dan berakhir menancap di atas permukaan tanah. Bilah tajam yang mengarah hampir mengenai lehernya ibarat kemenangan sempurna bagi Zealrey. Pemuda itu jelas mewarisi kehebatan sang pemimpin.

Tunggal Van Rough menyunggingkan senyum bangga atas kemenangannya, “Kau lihat, Aristokrat sepertiku tidak butuh pengawal. Aku bisa menjaga diri.”

Leomord menghela napas, menggeser ujung pedang yang masih ditodongkan pada lehernya dengan jari telunjuk. “Saya sangat yakin dengan kemampuan Anda. Namun, kedua orang tua Anda pasti memiliki pertimbangan.”

“Mari kita lihat, setangguh apa Aldebaran satu ini.” Zealrey mengalah lantaran malas berdebat. Memasukkan pedangnya ke dalam sarung yang tersampir di samping tubuh, kilat cahaya tak lagi berpendar dari mata. Ia menatap tajam ke pintu gerbang kastel hingga sebuah kereta kudaβ€”beserta Edge menyusul di belakangβ€”tiba dan yang ditunggu pun turun bersama Archedes .

“Jangan bilang pengawalku adalah seorang anak kecil?”

“Kali ini mungkin akan terasa lebih berat.” Leomord membenahi posisi cravat-nya, kemudian mendahului Zealrey untuk menyapa kedatangan klan Aldebaran.

Zealrey mengumpat dalam hati, merutuki harga dirinya sebagai seorang pangeran. Dan, apa, seorang anak kecil perempuan? Konspirasi murahan yang direncanakan ayahnya untuk membuat ia tunduk.

“Salam kepada matahari kedua Kerajaan Barat, Putra Mahkota Zealrey Alward de Van Rough. Semoga berkah dari Petinggi Agung selalu menyertai Anda.” Archedes yang pertama memberi salam, bersama Valeryne, mereka menundukkan kepala dan berlutut dengan satu kaki kanan menekuk.

Zealrey mengibaskan tangan, nyaris tidak peduli terhadap protokol aneh yang dilakukan kedua Aldebaran di hadapannya. “Cukup basa-basinya, aku ingin melihat orang yang akan mengawalku.”

Wajah bahagia Valeryne menjadi pemandangan pertama yang Zealrey tangkap setelah mereka diperbolehkan untuk berdiri. Berbeda dengan pengawal sebelumnya, raut tegas dan kaku tak terpancar dari wajah kaukasoid itu. “Nama saya Valeryne Grace Aldebaran. Kata Yang Mulia, untuk kedepannya saya yang akan mengawal Tuan Muda Zealrey nanti.”

Senyum lebar itu merekah, membuat siapa pun yang tidak menyukai anak-anak pasti akan iritasi. Namun, perasaan hangat menelusup dalam diri Zealrey. Hanya satu detik. Setelahnya decakan lolos dari bibir, bersamaan dengan larik delima yang kembali menajam, pedang pun ditarik dari balutan kulit hewan dan ia angkat tinggi. Secepat Archedes berkedipβ€”syok dengan tindakan si tunggal Van Roughβ€”secepat itu pula bilah tajam pedang menghunus ke arah leher bungsu Aldebaran, namun ujungnya tak cukup dekat untuk dapat melukai leher putih gadis itu. Archedes merasa sebagian energinya telah terkuras hanya dengan menyaksikan kejadian tersebut.

Zealrey mengangkat dagu, kemudian berbicara dengan nada yang begitu angkuh, “Kita lihat saja, setangguh apa kau dalam mengawalku nanti.”

Tidak ada respon. Valeryne sekadar membeku dengan bola mata membulat sempurna, namun gadis itu tidak gemetar. Jika Joe ikut serta menyaksikan, Zealrey dapat bertanya perihal isi pikiran seseorang tentang dirinya, dan sering kali ia mendengar tunggal Belvether menjelaskan persepsi yang beragam. Benda tajam itu lantas Zealrey masukkan kembali ke dalam sarung pedang, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.

Tangan Archedes terkepal erat, menyadari tak banyak yang dapat ia lakukan. Sebab satu kali salah bertindak, bisa saja kepala putri kesayangannyaβ€”atau bahkan kepala mereka berduaβ€”benar-benar akan terpisah dari tubuh.

“Ayah.”

Archedes menatap Valeryne ironis, berharap akan tersirat keraguan dalam benak putrinya setelah melihat tabiat si tunggal Van Rough. “Apa lebih baik kita kembali? Ayah akan berunding dengan Yang Mulia jika kau keberatan.”

“Tidak.” Dengan cepat Valeryne menoleh, senyum manis andalan senantiasa terpatri. Mata serupa gerhana darah itu menatap Archedes penuh keyakinan. “Tidak, Ayah. Aku berpikir, Tuan Muda Zealrey memang orang yang tepat.”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai