γ
€γ
€γ
€Mandala Orchydurata dulunya sempat dilanda wabah flu berkepanjangan, merenggut sebagian besar kehidupan anasir fana yang menetap di sana. Kendati sedikit pun tak berpengaruh bagi mereka yang tercipta sebagai keturunan Aristokrat.
Konon, darah kaum Aristokrat sendiri dipercaya dapat menyembuhkan segala jenis penyakit. Namun manusia terlalu awam untuk memahami arti di balik kata menyembuhkan yang dimaksud, sebab Aristokrat bukanlah sosok yang dengan gamblang menaruh belas kasih. Ketika Baldwin menyayat pembuluh nadi di pergelangan tangannya, cairan pekat mengalir turun selaku cercah harapan dan tanggung jawab bagi pemuda sebatang kara yang nyaris meregang nyawa. Virus keabadian menjalar ke faring, menggerogoti seluruh sel saraf, lantas merubahnya menjadi bagian dari mereka.
Edge Kruegerβnama pemuda ituβsecara tidak langsung telah menyerahkan jiwa serta kesetiaannya pada salah satu keturunan Aristokrat. Selama dasawarsa menjelma mimpi buruk bagi para radikal pembangkang klan Van Rough.
Ia adalah pejuang kepercayaan Baldwin, tak segan membunuh siapa pun yang menghalangi tujuan mereka. Pemuda berambut silver itu senantiasa berhasil memenuhi ekspektasi sang Pemimpin. Kejam, tangkas dan berhati dingin.
Walau bukan berasal dari kalangan bangsawan, Edge mendapat tempat tersendiri di hati para ahli waris darah murni. Salah satu di antaranya adalah Joe Vandeleur, keturunan terakhir Belvether yang digadang akan menjadi pemimpin klan. Membangkitkan kejayaan wilayahnya hingga dapat bersanding dengan kekuasaan klan Van Rough.
Alasan ketertarikan Joe tak lebih karena rasa penasaran bercampur jengkel. Beberapa kali pemuda vampir itu menyinggung harga diri si puan. Terlebih pikirannya tak mumpuni ditembus oleh bakat alami tunggal Belvether, seolah ada kabut pekat yang membendung.
“Aku benci mengakui bahwa kau menyebalkan.”
Dua ekor siluet kuda beserta cahaya redup lentera membelah kegelapan. Mereka dalam perjalanan menyambangi Valeryne Aldebaran. Kebetulan kediaman Aldebaran terletak di wilayah Utara Orchydurata, karena itulah Edge yang ditugaskan pergi sendiri alih-alih kini tengah menekur jalan bersama Joe. Meski disangkal, gadis itu bersikeras iring serta setelah mendengar kabar ia akan jemput pengawal baru untuk sepupunya.
“Menyebalkan adalah nama tengah saya. Jika tidak suka, jangan diambil pusing,” jawab Edge datar. Tidak ada nada menyindir, namun entah mengapa seolah ada percikan listrik yang menyulut emosi.
“Aku tidak ambil pusing, siapa kau hingga harus kupikirkan sedemikian dalam?”
Tanpa sepengetahuan Joe, senyum tipis terbit di wajah si pemuda vampir. Sedikit pun ia tidak merasa terintimidasi, justru tertawa terpingkal-pingkal dalam hati. Diterpa hembusan angin musim semi membuat jemarinya menyugar rambut silver kebanggaan. Entah mengapa keberadaan Joe mengubah suasana perjalanan yang biasanya terasa membosankan.
Kuda Edge berderap ke samping dan melambat jalan beriringan. “Kalau begitu, mengapa setiap kita bertemu Anda selalu tampak terganggu, Putri Joe?”
‘Jelas saja terganggu, aku tidak bisa membaca pikiranmu, bodoh!’ gerutu Putri Belvether dalam hati. Kendati demikian, ia enggan mengakui. Joe mempererat tali pita topi bonnet yang membelenggu dagunya. “Mungkin itu hanya perasaanmu saja, aku tidak pernah merasa seperti yang kau katakan.”
Keangkuhan luar biasa dipadu intonasi sinis yang terlontar dalam tiap lisannya membuat Edge gemas ingin terus menjahili. Derap langkah kuda yang ditunggangi pemuda itu berhenti tepat ketika mereka keluar dari pelataran hutan, perhatiannya beralih ke arah Joe yang juga ikut menghentikan kuda tunggangannya.
“Ada apa?” tanya gadis itu.
Iris merah si pemuda terpaku menatap netra biru sang Putri. Memorinya terlempar ke beberapa dekade silam. Edge ada di sana ketika Joe pertama kali berkunjung ke kastel keluarga Van Rough. Gadis kecil yang tengah berlari dan tak sengaja menumbur dirinya di tengah lorong gelap kastel berhasil menarik atensi. Namun, sudah semestinya pemuda itu sadar akan status sosial yang dimiliki, seorang vampir rendahan yang tak lebih dari sekadar penjaga. Kenangan manis sekaligus kenyataan pahit yang tidak semestinya diingat muncul begitu saja tanpa diminta.
Edge kembali tersadar, kemudian mengulas senyum mengejek, “Apa ada yang pernah mengatakan bahwa sikap Anda juga menyebalkan?”
“Baru kau yang lancang berkata seperti itu, dan kenapa kau tersenyum seperti orang bodoh?”
Gelak tawa terdengar, seringai si pemuda terlalu lebar hingga menampakkan dua taring tajam. Jenis tawa menjengkelkan yang merusak rungu. Namun, anehnya Joe Vandeleur tak merasa terganggu. Ia justru menikmati seakan mendengar sebuah irama yang memberi ketenangan.
Yang ditanya mengedikkan bahu lantas memilih melanjutkan perjalanan mendahului Joe. Kastel Aldebaran sudah di depan mata. Bukan waktunya mengurus perasaan pribadi, ada hal lain yang lebih penting, dan itu berkaitan dengan tujuan mereka datang ke tempat ini. Perihal perasaannya pada Joe akan disimpan serapat mungkin. Selama apa, ia pun tak bisa menakar.
β α΄Ι΄Κα΄α΄α΄Κα΄ΚΚα΄ β
“Bagaimana menurutmu?” Suara bariton menggema di ruang paviliun Selatan kediaman Van Rough. Dinding berlapis marmer beku beserta tumpukan buku menjadi saksi di tengah percakapan dua insan itu.
“Valeryne Grace Aldebaran sudah siap, Yang Mulia. Malam ini Edge pergi untuk menjemputnya. Dan jika tidak ada kendala, mereka akan sampai keesokan pagi atau satu hari setelahnya.”
“Zealrey?”
“Saya rasa Tuan Muda akan mencoba membunuhnya lagi, terlebih tentang bagaimana akhir kisah dari beberapa pengawal sebelumnya, kabar itu bahkan sudah menyebar luas.”
Jemari telunjuk Baldwin mengetuk-ngetuk permukaan meja, kerut halus tampak di antara kedua alis, menandakan ia sedang menakar pikiran. Apa yang disadari oleh Baldwin tentang intrik dan rumor yang sempat tersebar adalah hal yang normal. Mengingat anak semata wayangnya akhir-akhir ini senantiasa menjadi perbincangan, sekalipun Zealrey enggan berkecimpung secara langsung dengan kehidupan sosialita.
Ia mengatup buku yang menganggur tanpa di baca, atensinya beralih pada pemuda di hadapan. “Firasatku berkata kali ini hasilnya akan berbeda.”
“Maksud Yang Mulia?”
Iris merah gelap itu menatap Leomord Arthurβajudan kepercayaan selain Archedes. Ingatannya terlempar kembali pada malam di mana ia menemukan Leomord sekarat di tengah hutan dengan kondisi mengenaskan: lebam ungu membekas di sana-sini, tubuh tampak bagai serangga kering yang tidak pernah makan selama berhari-hari, seolah sengaja ditinggalkan begitu saja agar segera mati.
Baldwin sebenarnya bukan semata-mata menaruh minat untuk berbelas kasih. Ketika netra mereka bersirobok, tatapan kosong pemuda itu terlihat sarat akan getir, kendati demikian tidak mengemis pertolongan. Keputusan Baldwin untuk merubahnya menjadi bagian dari makhluk penghisap darah tak salah. Leomord menjadi sekian dari pelindung terbaik yang dimiliki klan Van Rough.
“Aku pernah bertemu dengannya.”
Leomord menunggu dengan sabar. Tidak ingin menyela. Posisi berdirinya masih sama, tegap dengan kedua tangan menyilang di balik punggung. Iris sehitam malam itu menatap sang Tuan datar.
“Valeryne Grace Aldebaran diberi berkah luar biasa. Lahir ketika purnama darah berlangsung tepat saat matahari tengah terbakar, ia menjadi yang paling kuat sekaligus bersinar di antara Aldebaran lain.” Senyum tak pudar menghiasi wajah rupawan sang Penguasa Orchydurata, binar kebahagiaan menari di kedua bola matanya. Seolah sedang menceritakan seseorang yang begitu disayang, padahal hanya berstatus sebagai pengawal bagi si tunggal Van Rough.
“Aku jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatnya.” Tubuhnya bersandar dengan telunjuk mengetuk dagu, tingkah Baldwin mimikri seperti remaja yang baru mengenal cinta. “Valeryne begitu kuat, terlalu silau hingga rasanya ia tidak pantas untuk anakku.”
Kedua alis Leomord bertaut heran mendengar ucapan tuannya. Namun, ia memutuskan untuk tidak bertanya. Sejak mengabdikan hidup pada keluarga klan Van Rough terutama menjadi pengawal Baldwin, pemuda vampir itu hanya fokus mengerjakan tugas yang dibebankan. Ia pikir begitulah cara yang tepat untuk berbalas budi. Walau seringkali rasa penasaran bergelanyut dalam benak, ia hanya memendam dalam tanpa niat untuk mengutarakan.
“Kau tahu komet Halley? yang muncul setiap tujuh puluh lima tahun sekali? Pijarnya begitu terang hingga dapat dilihat dengan mata telanjang.”
Tidak banyak yang tahu, siapa singka bahwa kepala keluarga Van Rough ini sangat menyukai segala hal tentang astronomi. Melihat gugus bintang serta mempelajari mitos yang terkandung di dalamnya sudah menjadi hobi tersendiri sejak dulu. Informasi tersebut tersimpan rapat dan hanya diketahui oleh orang terdekat Baldwin saja, termasuk Leomord dan Archedes.
“Anda sudah mendengar ramalan itu, Yang Mulia?”
“Tentu saja, kau pikir aku akan melewatkannya?” Lelaki itu beranjak dari kursi, berjalan ke arah bingkai jendela. Menikmati pemandangan malam yang disuguhkan di depan sana.
“Yang terkuat dari Aldebaran akan menjadi pisau bermata dua.”
Rahang Leomord mengatup rapat, ia bahkan dapat mendengar gemeletuk giginya saking menahan diri untuk tidak bersuara. Ia paham maksud perkataan Baldwin mengarah pada ketentuan para Petinggi Agung.
“Kau pasti berpikir bahwa keputusanku ini salah. Bahkan setelah mengetahui tentang ramalan itu, aku tetap kukuh menunjuk Valeryne untuk menjadi pengawal Zealrey.” Baldwin berbalik mendapati ekspresi dingin Leomord, ia tersenyum tipis. “Jangan lupa tentang ramalan yang menyebutkan bahwa Zealrey akan menghancurkan klan.”
“Saya tidak lupa, Yang Mulia. Namun Tuan Muda tidak mungkin melakukan hal itu,” kata Leomord, nyaris terdengar muram.
“Tak ada yang bisa menjamin. Aku tahu kau begitu mengagumi Zealrey bahkan rela berkorban nyawa untuknya. Tetapi, aku butuh jaminan.”
“Maksud Yang Mulia?”
Baldwin kembali melempar pandangannya ke luar jendela dengan ekspresi tak terbaca. “Sinar terang Valeryne akan melunakkan sifat keras Zealrey. Kau pasti paham maksudku.”
Tinggalkan komentar