Peta Orchydurata

ใ
คใ
คใ
คKlan Van Rough adalah satu di antara Aristokrat tertua yang dipercaya para Petinggi Agung untuk menguasai sebagian wilayah Orchydurata. Setelahnya berdampingan dengan Belvether, Von Stein dan Roldovian. Masing-masing pemimpin klan ditentukan daerah kekuasaannya hingga pada taraf persetujuan. Kebetulan Van Rough mendapat wilayah Barat sebagai wadah di bawah naungan; salah satu dari segelintir tempat yang memiliki iklim sejuk sebab hampir sepanjang tahun dilanda tingginya curah hujan.
Kepemimpinan dalam klan sendiri ditentukan berdasar pada garis keturunan. Mereka yang terpilih sebagai pengampu sudah pasti merupakan vampir dari kalangan darah biru, tak terkecuali Baldwin Declan Van Rough. Ia ditunjuk sebagai kepala keluarga setelah mendiang ayahnya meregang nyawa. Baldwin sebenarnya tidak pernah siap menyandang gelar. Hanya saja, karena keadaan memaksa, maka ia wajib mematuhi aturan yang berlaku di negeri ini.
Mungkin hal itu pula yang membuat dirinya mempersiapkan Zealrey sejak awal untuk menjadi pewaris pemimpin klan yang sempurna. Karena demikian, Baldwin tidak pernah bertanya pada anak semata wayangnya perihal impian dan keinginan. Semua diatur sejak Zealrey baru menghirup udara dunia, dan tidak pernah sekali pun ia diberi hak untuk menentukan pilihan termasuk kehidupan dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
โ แดษดสแดแดแดสแดสสแด โ
Bangunan megah yang berdiri sejak zaman peperangan itu masih tampak kokoh. Dindingnya terbuat dari bongkahan batu keemasan seperti madu, tidak kusam dan justru mengagumkan. Lantai di kastel ini berlapis marmer yang dipoles setiap hari hingga gemilap, akan tercipta bunyi ketukan ringan tak terkecuali jika ada seseorang yang lalu-lalang di atasnya.
Menjelang pertengahan malam, kastel Van Rough dipenuhi ingar-bingar para pelayan. Kabar jika majikan mereka mengundang anak tunggalnya datang ke paviliun menjadi buah bibir utama. Hal yang sungguh tak biasa, mengingat selama ini Baldwin tidak pernah sudi berada dalam satu ruangan dengan si tunggal jika bukan untuk membahas sesuatu yang amat penting.
Langkah pemuda Aristokrat itu menggema di sepanjang koridor kastel. Beberapa pelayan yang tengah memoles miniatur porselen menghentikan aktivitasnya untuk sekadar menunduk hormatโberselindung mengagumi keindahan dari keturunan kaum Aristokrat satu iniโkendati sang pangeran tak sedikitpun memberi atensi pada mereka.
Di depan pintu paviliun, ajudan kepercayaan Baldwin berdiri tegap dengan kedua tangan menyilang di balik punggung. “Yang Mulia sudah menunggu Anda di dalam.”
Pintu terbuka dengan sendirinya setelah sang ajudan mempersilahkan Zealrey masuk. Ruangan itu bisa dikatakan sangat luas dengan nuansa hitam putih elegan. Aroma kayu cedar, pohon benjamin, dan galbanum yang manis-segar beradu bersama sisa asap tembakau menari-nari di faring. Baldwin duduk pada salah satu sofa yang tersedia, memperhatikan kedatangan anak lelakinya. Sedangkan Zealrey masih berdiri tanpa minat bergabung duduk, dirinya enggan berlama-lama.
“Ada yang ingin ayah bicarakan?” tanya Zealrey tanpa minat.
“Kau pasti tahu, setiap anggota keluarga Van Rough akan diberi lambang sebagai bentuk identitas dan kebanggaan.” Sejak menyandang gelar pemimpin, Baldwin tidak pernah mau repot berburu. Ia lebih memilih menikmati darah segar para manusia yang langsung tersedia di cawan kristalnya. Seperti sekarang, lelaki tua itu bersemayam tenang menunggu reaksi Zealrey seraya menikmati makan malam yang terlambat.
“Setelah kau mendapat lambang, kau juga memiliki hak untuk dikawal oleh salah satu orang terbaik dari klan Aldebaran.”
Zealrey terlalu runyam bagi Baldwin, sekalipun hubungan mereka adalah ayah dan anak. Namun, selama lebih dari satu dekade tidak pernah ia dapat memahami arti sikap diam Zealrey. Kadang ketenangannya yang terkesan dingin justru membuat Baldwin khawatir. Saat ini pun, si tunggal senantiasa tidak memberi reaksi yang diharapkan. Tetap bergeming ketika nama Aldebaran terlontar dari lisannya.
“Kuharap, kau takkan membunuh pengawalmu lagi,” lanjut Baldwin lalu menyesap cawan kristalnya.
Senyum tipis menghiasi wajah rupawan Zealrey. Sungguh, ia tidak terlalu memperdulikan aturan kolot keluarganya yang mengharuskan setiap pewaris wajib mempunyai satu pengawal. Maka ketika Zealrey memiliki kesempatan untuk menghabisi mereka, akan ia lakukan dengan senang hati. Bodohnya para pengawal yang ditugaskan selalu menganggap itu adalah tugas mulia.
“Aldebaran mana yang akan menjadi pengawalku?” tanya Zealrey tidak dapat menyembunyikan seringai di wajah karena kelewat antusias.
Cawan diletakkan begitu saja di atas meja, Baldwin beranjak dan melangkah mendekati Zealrey. Berdiri sejajar menatap kedua netra merah delima milik sang Pangeran Van Rough. Seringai yang muncul pada wajah Zealrey tak luput pula dari pandangan si tua.
“Valeryne Grace Aldebaran, gadis yang lahir ketika purnama darah. Dia yang akan menjadi pengawalmu,” jawab Baldwin pelan. Ia mendekat, menilai reaksi Zealrey lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga si vampir muda, “cobalah untuk membunuhnya. Jika berhasil, takkan ada pengawal lain yang kukirim untuk menjagamu.”
Seringai Zealrey semakin melebar, tampak mengerikan diterpa cahaya rembulan yang masuk melalui sela-sela jendela. Kebebasan akan segera ia dapat jika Valeryne mati di tangannya. Jelas takkan ia sia-siakan. Zealrey tahu Baldwin bukanlah tipikal penipu, justru selalu menepati ucapan. Sebab, walaupun ia manipulatif, bohong tidak termasuk ke dalam sifat buruk yang dimiliki.
“Kalau begitu, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.”
Tinggalkan komentar