ππ‘πŽπ‹πŽπ†π”π„

γ…€γ…€γ…€Dahulu kala, ketika keajaiban mampu terjadi dalam sekali kedipan mata, ketika semua anasir hidup di antara mereka secara berdampingan; ada satu yang tercipta sebagai wadah dari segala ketamakan. Keberadaannya dianggap kekal abadi, mampu bersilat lidah, mampu memanipulasi. Dalam mite ini dia dikenal sebagai makhluk yang sempurna. Setiap kali melintas, semua makhluk lain harus berhenti dan membuka jalan.

Mereka adalah perwujudan autentik kesayangan para Petinggi Agung, mereka mendapat julukan sebagai kaum Aristokrat. Kaum yang dengan sukarelawan mengekang roda kehidupan pada hukum kekuasaan dan kehormatan, menganggap itu semua sebagai sandang kewajiban. Konon, sejak ribuan tahun lamanya, entitas itulah yang menjadi tonggak berdiri bagi negeri makmur bernama Orchydurata.

Namun pada tujuh ratus tahun terakhir, terjadi anomali dari salah satu keturunan mereka yang mengakibatkan para Petinggi Agung murka.

“Entitas tercela nan hina tak selayaknya menginjakkan kaki di negeri ini, sepertinya kalian lupa jika aku bisa memusnahkan kalian kapan saja.”

Sabda itu menggema di telinga para Aristokrat bagai mimpi buruk. Sebagaimana mereka menghakimi saudaranya sendiri demi mendapatkan kembali kepercayaan Petinggi Agungβ€”pasak perak menancap dengan sempurna di jantung salah satu pemuda Aristokrat. Jasadnya disalibkan hingga fajar menyingsing, kendati dibiarkan hangus terbakar matahari di luar perbatasan wilayah negeri Orchydurata.

“ELIAS!”

Ikatan tabu yang tidak seharusnya ada di antara garis kehidupan insan abadi dan insan fana itu meluluhlantakkan tonggak yang dibangun kokoh hingga ruai terpecah belah. Maka saat ini, negeri Orchydurata terbagi menjadi empat wilayah kerajaan di bawah kepemimpinan kaum Aristokrat.

Kisah itu berakhir dengan si pemuda lesap meregang nyawa, sedangkan gadis manusia dibiarkan menjalani kesengsaraan selama sisa hidupnya.

Hari, bulan, tahun silih berganti. Kendati siapa sangka jika insiden silam akan terulang kembali, seolah enggan luput dari perputaran waktu.

Tepat ketika purnama menggantung naik ke peraduan, membuat langit terlihat benderang dari biasanya. Sayangnya, di dalam hutan pandangan lebih temaram. Hanya seberkas cahaya sinar bulan yang menembus masuk melalui celah-celah ranting pepohonan. Beberapa siluet melesat berkejaran dengan sesuatu. Mereka memburu apa yang menjadi incaran atas titah dari Yang Mulia.

“Kejar mereka, jangan biarkan Pangeran melarikan diri!”

Di tengah huru-hara keributan, figur gadis dalam dekapan mempererat pelukan pada pemuda berambut pirang yang setia memapah tubuhnya. Cemas menyeruak dalam hati, namun entah mengapa rasa senang juga ikut mendominasi. “Aku tidak mengerti mengapa kau memilih jalan seperti ini.”

“Kita akan baik-baik saja, percayalah padaku.”

Pemuda itu jelas tahu bahwa keputusan yang ia pilih terlalu gamblang. Namun sejatinya kehidupan Orchydurata tidaklah ideal bagi dirinyaβ€”bagi mereka berdua. Maka, malam ini ibarat panggung teater yang menggulir kembali kejadian tujuh ratus tahun lalu.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai